Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Menantikan Dia dalam pengharapan

Khotbah pada Minggu 1 Adven disampaikan di GKI Halimun Jakarta, Minggu, 3 Desember 2023 dari bacaan Alkitab:  Yesaya 64:1-9; Mazmur 80:1-7, 17-19;  1 Korintus 1:3-9; Markus 13:24-37 Adven atau lengkapnya Adventus adalah bahasa latin. Artinya kedatangan. Kita merayakan adven, kedatangan. Kedatangan Tuhan Yesus kembali pada akhir zaman. Nanti akan tiba saatnya, Tuhan Yesus akan memeriksa keseriusan hidup kita yang sudah diselamatkan dari cengkeraman kuasa dosa. Tuhan Yesus akan memimpin dunia ini dengan menghadirkan Langit yang baru dan Bumi yang baru .  Yerusalem baru . Dunia di mana kuasa-kuasa dunia yang jahat, yang dilambangkan seperti benda-benda langit akan kalah dengan kuasa kebaikan Kristus.   Maka pesan penting dari minggu-minggu adven adalah, kalau diungkapkan dengan pertanyaan untuk diri sendiri:“ "Apakah aku serius dengan imanku?”" Apakah aku serius ikut Tuhan Yesus?” “Apakah hidupku mau dibuat menjadi baru karena kuasa Roh Kudus sesuai kehendak kas...

Natal dan Krisis "Eko"

Bagi saya Perayaan dan Peringatan Natal Yesus Kristus adalah sebuah "titik mengaso" dan "mengisi perlengkapan" dalam ziarah hidup ini. (orang zaman dahulu menyebutnya"pos pengumben"). Pada titik itu, memori saya kembali diisi dengan kenyataan bahwa Allah itu peduli dan kepedulian-Nya itu habis-habisan ( all-out ). Dia yang serba maha, mau menjadi serba terbatas, agar yang serba terbatas itu menikmati secercah pengharapan untuk menikmati kedamaian dan kesejahteraan. Allah konsisten untuk berbagi Diri dalam membarui dunia ini. Di seputar kelahiran Yesus Kristus sebagaimana dikisahkan Injil-Injil, saya menjumpai orang-orang dari beragam status sosial, pemikiran, kuasa, melebur dan berpadu untuk menjadikan dunia lebih baik. Para malaikat (makhluk ilahi), Para Majus (mistikus dan filsuf), Para gembala (jelata), Para rohaniwan/wati (Zakharia, Elisabet, Simeon, Hana), sampai individu-individu awam berdarah bangsawan dari klan Daud (Yusuf dan Maria) menjadi ak...

Tele Marketing

Minggu ini dua kali saya menjadi target tele marketing. Satu dari perusahaan asuransi, satu lagi dari bank yang menerbitkan kartu kredit. Mungkin ini resiko hidup di zaman digital. Kemudahan teknologi menjadi peluang bisnis tersendiri. Apalagi pertumbuhan ekonomi agak tersendat akibat hawa krisis finansial global yang berawal di AS. Dengan segala daya dan upaya para marketer itu merangsang saya untuk menerima tawaran mereka. Jika hati dikuasai rasa loba dan tanpa pertimbangan matang untuk merencanakan keuangan yang baik, betapa mudahnya seseorang menjadi konsumen dari pemasaran jarak jauh itu. Untungnya saya tahu apa itu kecukupan. Saya bukanlah target yang mudah bagi mereka. Bagi saya harus ada batasan yang jelas antara kebutuhan dan keinginan. Mengeksekusi pilihan ini kadang susah. Banyak orang dengan mudahnya seperti terhipnotis saja terhadap tawaran-tawaran tele marketing ini. Apalagi mengingat "keuntungan-keuntungan" ikutannya. Memang tidak semua tele marketing bur...

Siap Sedia

Pernah dengar atau tahu tentang kuadran penggunaan waktu? Kurang lebih begini: penting-genting penting-tidak genting tidak penting-genting tidak penting-tidak genting kebanyakan orang bisa jadi berjibaku di kuadran 4, karena biasanya kuadran itu adalah yang paling menyenangkan. Menonton TV, tidur-tiduran, laha-lehe, dsb. Orang sibuk, biasanya bergeliat di kuadran 1. Sedangkan pemenuhan keinginan diri, biasanya ada pada kuadran 3. Namun sedikit orang yang memfokuskan diri pada kuadran 2. Ya, melakukan pekerjaan penting, meski itu tidak genting. Padahal rupanya kunci dari kuadran waktu ini adalah pada kuadran 2. Orang tidak terlalu tergopoh-gopoh untuk bergeliat di kuadran 1 hingga burn out , kalau ia senantiasa menjaga intensitas yang pas di kuadran 2. Tetua kita zaman dahulu meramunya dalam peribahasa: "berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian" dan "sedia payung sebelum hujan"

Kecanggihan Teknologi bak pisau

Seorang guru SMU di gorontalo dicerca banyak orang. 18 muridnya ditampar bergiliran karena gaduh di kelas. (padahal mereka gaduh karena tidak ada guru yang mengajar..) Sial bagi sang guru, untung bagi para murid dan publik, perilaku kekerasan itu direkam/terekam? kamera telepon seluler. DPRD Gorontalo memanggil oknum guru nakal itu, dan mempermasalahkan tindakannya. Kepala sekolah SMU bersangkutan (entah karena melindungi korps, atau apa) mati-matian membela tindakan guru beringasan itu. Rekaman tindakan kekerasan dengan telepon seluler itu ternyata berguna. Tetapi tunggu, masih dalam konteks yang sama, yaitu sekolahan, masih ingat dalam benak kita kisah rekaman mesum anak sekolahan pada telepon seluler pula. Ternyata kecanggihan teknologi bak pisau saja. Pisau di tangan pembunuh kejam, dapat mengahibisi nyawa. Tetapi pisau di tangan seorang ahli bedah, memperpanjang nyawa. Anda sendiri menggunakan kecanggihan teknologi dengan cara bagaimana?

Re-orientasi hidup

Hidup senantiasa baru, jika orang mau melakukan re-orientasi simultan terhadap hidupnya. Dengan melakukan ini ia selalu berupaya menyadari akan keberadaan dirinya, siapa dirinya, untuk apa ia ada di tempat/posisi/peran tertentu dalam lingkungan kehidupannya dan apa yang akan ia kerjakan dalam tempat/posisi/peran tertentu itu. Proses ini akan amat terbantu jika ia memiliki pegangan yang kokoh sebagai penerang re-orientasinya. Apalagi jika "Penerang" itu adalah orang yang berpengalaman dalam menyikapi seluk beluk hidup manusia dengan segala permasalahan yang ada antara sesama dan lingkungannya. Dalam bahasa keagamaan, re-orientasi hidup dikenal juga sebagai tindakan pertobatan. Orang yang bertobat adalah orang yang menjadikan Sang Pencipta sebagai titik sentris hidupnya. Tidak lagi ia berkanjang dalam kehidupan yang tidak jelas tanpa arah, melainkan mau melangkah maju untuk menjadikan kehidupan dan dunianya tempat yang lebih baik untuk hidup. Sebuah dunia baru menanti di...

Salah Kaprah

To err is human. Itu kata orang barat. Manusia memang bisa salah, dan boleh salah. Tetapi, kata seorang rekan saya yang bijak, semakin tambah usia dan pengalaman hidup sepatutnya semakin sedikit salah. Salah kaprah terjadi karena orang begitu yakin dapat membaca segala situasi dan merasa tepat dengan pilihan tindakan yang diambilnya. Padahal, kemungkinan-kemungkinan lain sekecil apapun itu mesti ada. Begitu ini diabaikan, seseorang tidak jauh untuk jatuh ke dalam salah kaprah. Salah kaprah merupakan bentuk kekerasan pemikiran. Biasanya orang lain menjadi objek "pukul rata" untuk memenangkan ide dan gagasan diri sendiri yang belum tentu juga sempurna. Salah kaprah tidak membahagiakan diri sendiri apalagi orang lain. Agar tidak salah kaprah, belajarlah untuk mendengarkan sebelum mau didengar.