Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Menantikan Dia dalam pengharapan

Khotbah pada Minggu 1 Adven disampaikan di GKI Halimun Jakarta, Minggu, 3 Desember 2023 dari bacaan Alkitab:  Yesaya 64:1-9; Mazmur 80:1-7, 17-19;  1 Korintus 1:3-9; Markus 13:24-37 Adven atau lengkapnya Adventus adalah bahasa latin. Artinya kedatangan. Kita merayakan adven, kedatangan. Kedatangan Tuhan Yesus kembali pada akhir zaman. Nanti akan tiba saatnya, Tuhan Yesus akan memeriksa keseriusan hidup kita yang sudah diselamatkan dari cengkeraman kuasa dosa. Tuhan Yesus akan memimpin dunia ini dengan menghadirkan Langit yang baru dan Bumi yang baru .  Yerusalem baru . Dunia di mana kuasa-kuasa dunia yang jahat, yang dilambangkan seperti benda-benda langit akan kalah dengan kuasa kebaikan Kristus.   Maka pesan penting dari minggu-minggu adven adalah, kalau diungkapkan dengan pertanyaan untuk diri sendiri:“ "Apakah aku serius dengan imanku?”" Apakah aku serius ikut Tuhan Yesus?” “Apakah hidupku mau dibuat menjadi baru karena kuasa Roh Kudus sesuai kehendak kas...

Merasa diri paling tahu

Hati-hati! Orang yang merasa diri paling tahu bisa-bisa sudah menggantikan Allah dengan diri sendiri. Rasanya ini yang menjadi cikal bakal dosa, godaan untuk menjadi sama seperti Allah. Ada yang menggembirakan jika kita tidak mengetahui kapan pastinya hari akhir/akhir zaman/kiamat/kapan mati. Menggembirakan karena dengan begitu kita menjadi orang yang sadar diri untuk merendah, bahwa ternyata ada kuasa yang jauh lebih tinggi dari segala pengetahuan dan kebisaan kita. Daripada merasa diri paling tahu, lebih baik merasa diri paling tidak tahu, setidaknya akan hal-hal yang memang tidak perlu kita ketahui. Dengan begitu kita dapat terus bergantung kepada Allah. Tetap beriman, berpengharapan dan menghidupi kasih. Selalu ada porsi yang dikerjakan Allah dan porsi yang dikerjakan kita. Bagian kita manusia adalah mengerjakan apa yang menjadi porsi kita sebaik-baiknya. Ini yang lebih penting ketimbang merasa diri paling tahu. Apalagi jika dengan semberononya menggantikan posisi Allah periha...

Keserakahan dan Krisis Finansial

Ada kaitan yang erat antara keduanya. Semua manusia pada dasarnya memang tidak pernah puas. Tetapi jika serakah kemudian sudah mendominasi diri, akibatnya fatal. Jika harta menjadi tujuan utama dan seluruh energi dikerahkan untuk mencapai tujuan itu, akibatnya pasti kekecewaan. Guru Agung saya pernah mengatakan: "Jangan ngumpulin harta di bumi. Di bumi sebanyak-banyak, sebagus-bagusnya, semahal-mahalnya harta dapat di makan ngengat dan karat, bahkan diambil maling! Lebih baik ngumpulin harta sorgawi, harta ilahi/rohani, karena kepemilikannya kekal." Lanjut beliau lagi, "Orang yang hidupnya mau mencari dan diisi oleh hikmat ilahi, di mana Allah pencipta yang menjadi pucuk pimpinan tertinggi, segala arahan-Nya diikuti, akan menemukan kekayaan dalam bentuk kebahagiaan abadi dengan segala tambahan yang diberikan-Nya kemudian." Benar juga Guru Agung saya itu. Punya uang untuk makan, beli makanan paling bertahan 5 jam, perut udah keroncongan. Punya uang untuk pergi k...

Reaktif vs Proaktif

Stephen Covey memang arif. Dia mengusulkan agar setiap orang tidak reaktif, melainkan proaktif. Menjadi proaktif ialah mampu mengelola baik akal budi, nurani dan kehendak untuk ada dalam masa jeda (pause) sebelum eksekusi tindakan. Proaktif maknanya lebih luas ketimbang inisiatif belaka. Ketimbang reaktif, yaitu eksekusi tindakan sesegera dan secepat mungkin begitu ada aksi yang datang, memilih menjadi proaktif ternyata lebih mendatangkan kedamaian dan peluang-peluang baru yang lebih kaya. Jika diibaratkan dengan air, maka menjadi proaktif sama seperti menjadi air putih, yang walau diubek-ubek, dikocok-kocok, buihnya muncul sekejap dan kembali tenang. Sedang menjadi reaktif, sama seperti air soda, yang segera berbuih begitu digoncang-goncangkan. Memang perlu latihan untuk menjadi proaktif, tetapi latihannya menyenangkan! apalagi hasilnya..

Mempengaruhi atau dipengaruhi?

Saya pilih dua-duanya. Tentu dalam nuansa yang bermoral. Mempengaruhi orang untuk melakukan kebaikan, dan dipengaruhi orang lain untuk menjadi semakin baik. Celakanya ini tidak selalu mudah. Satu hal yang menghambat ialah sikap egois berlebih. Manusia pada dasarnya memang egois, tetapi kalau sudah kebablasan, wah... yang ada kekerasan! baik kekerasan fisik maupun kekerasan pemikiran. Bisa jadi pada akhirnya mereka malah memberikan pengaruh yang buruk bagi sesamanya, dan yang dipengaruhi mengalami keburukan juga. Orang menjadi begitu mudah terpengaruh pada saat "titik nikmatnya" disentuh. Kesenangan, kebanggaan, fasilitas, kemudahan adalah bagian dari "titik nikmat" seseorang. Itu sebabnya para penjual, dilatih bukan untuk menjual produk mereka di dalam meyakinkan konsumen, melainkan menjual kebutuhan dan kemudahan yang akan diterima apabila si konsumen memiliki produk yang dijual. Berbagai penipuan berkedok sms berhadiah, melalui telpon, melalui surat, bahkan inve...

Manusia memang tidak pernah puas

Malam ini saya mengikuti kebaktian wilayah di Tebet. Sebelum kebaktian dimulai, kami menikmati makan malam yang dihidangkan oleh tuan rumah. Seperti biasa ada percakapan kecil sembarang topik sambil kami makan. Sewaktu menikmati cuci mulut irisan buah semangka yang dingin dan segar ada seorang ibu berujar: "hati-hati memilih semangka, sekarang sudah penuh rekayasa. Bisa jadi warna merahnya menggunakan pewarna. Belum lagi rasa manis yang ada, bisa jadi karena disuntikan zat pemanis sintetis". Menyambung ungkapan si ibu tadi seorang bapak menambahkan: "ah bukan cuma semangka saja, telur pun sekarang sudah sintetis. Telur rekayasa!" Semangat saya untuk menghabiskan sepotong semangka memang tidak berkurang karena percakapan kecil itu. Tetapi ini menimbulkan perenungan kecil, bahwa ternyata semakin hari orang semakin egois saja. Segala sesuatu dibuat untuk memuaskan mata, lidah, aroma dan cita rasa. Bahan-bahan tambahan sintetis semakin sering digunakan untuk segala je...

Enggan Berdisiplin

Perlu diakui pengguna jalan di Jakarta enggan berdisiplin. Sehari-hari saya menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Ketika menemui lampu merah, hampir pasti sepeda motor berebut untuk segera mencapai posisi paling depan. Mungkin ini dilakukan karena jika ada dibelakang kendaraan lain, muka akan terkena semburan asap knalpot dari kendaraan di depan. Atau mungkin agar pada saat lampu hijau, dapat segera tancap gas. Tetapi tunggu dulu, boro-boro lampu hijau, pada saat lampu merah pun para pengguna sepeda motor segera bergegas memacu motor mereka. Apa terjadi? saya merenung sejenak.. Ah, mungkinkah ini terjadi karena lampu merah bukan produk bangsa ini? Lampu merah dengan garis batas berhenti kan diciptakan dari kesadaran orang barat? apa itu penyebabnya? jangan-jangan para pengendara sepeda motor yang tancap gas pada saat lampu masih merah itu "asing" dengan lampu lalu lintas? Mungkin benak mereka dipenuhi "gaya rimba" yai...

Strategi dan Taktik

Apa yang membedakan keduanya? "Strategi adalah pada saat kita melakukan apa yang benar ." "Taktik adalah pada saat kita melakukan segala sesuatu dengan benar ." Walau tidak identik, Strategi bisa dijajarkan dengan tindakan yang efektif (berdampak), sedangkan taktik sebagai tindakan yang efisien (tepat guna, menghasilkan). Keduanya saling melengkapi. Memanaje apapun itu, dua hal ini tidak boleh ketinggalan..

Game Online

Dulu sewaktu saya kecil, permainan hanya sebatas gundu, gambaran, petak umpet, dampar (menggunakan batu), gatrik (menggunakan buluh). Kini game online rasanya lebih menantang ketimbang permainan-permainan tradisional itu. Entah berapa banyak anak-anak telah terjun ke dalam dunia game online ini, tetapi jika tidak hati-hati, dampak negatifnya tidak sedikit. Di dunia maya unsur sosialisasi terjadi secara maya. Ekspresi gembira diganti dengan icon. Hampir tidak ada keringat di sini. Yang ada (biasanya) adalah adu strategi dalam durasi waktu yang terbilang tidak sedikit. Sebagaimana halnya permainan menimbulkan semangat untuk menjadi pemenang dalam nuansa rasa penasaran yang tinggi, tak jarang permainan tidak lagi menjadi "permainan", melainkan menjadi candu. Tidak lagi rekreatif tetapi menjadi adiktif. Sepertinya dibutuhkan tindakan kedisiplinan untuk menjaga dampak negatif dari game online ini. Setidaknya ada dua sifat, yaitu prefentif dan edukatif. Preventif dilakukan deng...

Maknakan Hidup

Rutin, dari kata route berarti lingkaran. Menjalani hidup rutin, berarti seperti menjalani lingkaran. Ada titik awal, berputar kembali ke titik awal. Tanpa pemaknaan, rutinitas hidup = membosankan. Itu-itu saja, itu-itu lagi. Tidak susah membuat pemaknaan dalam rutinitas hidup. Yang dibutuhkan hanya pendayagunaan indera diiringi dengan pemanfaatan hikmat (kebijaksanaan) untuk melihat segala sesuatu dalam terang kebaruan hidup. Di dalamnya ada kemauan untuk belajar menjadi orang yang lebih baik dan semakin dewasa, semakin berguna bagi orang lain. Hari ini saya memulai proses itu.